
Pernahkah merasa hidup seperti medan perang? Setiap hari ada saja yang memicu emosi—orang yang memotong antrian, komentar pedas di media sosial, pasangan yang tak peka, atau masa lalu yang masih menghantui. Kita sering berusaha mengontrol segalanya agar terasa aman, tapi tetap saja hati ini mudah tersulut.
Michael Singer, penulis The Untethered Soul, mengajarkan sesuatu yang sederhana namun revolusioner: kita bisa belajar untuk “melepaskan”. Melepaskan bukan berarti pasrah buta atau menghindari masalah, melainkan cara menghadapi hidup tanpa menumpuk sampah emosional di dalam diri.
Mari kita gali lebih dalam.
Spiritualitas bukan ritual yang rumit atau sekadar duduk bermeditasi berjam-jam. Spiritualitas adalah seni dan kemampuan menerima kenyataan hidup saat ini, apapun kondisinya,dan apapun yang terjadi.
Kenyataan bukanlah “versi saya” atau “versi kamu.” Kenyataan adalah apa yang benar-benar terjadi, terlepas dari filter suka-tidak suka yang kita pasang. Misalnya, saat seseorang marah pada kita, kita sering merasa “dia menyerang saya.” Padahal, secara obyektif, kita hanya kebetulan berada di dekat seseorang yang sedang marah karena masalahnya sendiri.
Jika kita bisa melihat realitas tanpa filter, kita tidak akan terseret drama. Kita akan menjadi saksi yang tenang, bukan korban dari keadaan.
Setiap pengalaman yang “mengganggu” kita, jika tidak kita lepaskan, akan tersimpan dalam batin seperti sampah yang membusuk. Saat ada kejadian baru yang mirip, memori lama itu akan bangkit lagi, menambah reaksi emosional kita.
Ini disebut perlawanan batin. Semakin banyak yang kita simpan, semakin mudah kita tersulut. Inilah alasan kita cepat tersinggung, sulit memaafkan, atau merasa dunia seolah melawan kita.
Solusinya? Bersihkan batin. Lepaskan apa yang tersimpan di sana, satu per satu.
Bagaimana caranya? Inilah bagian yang paling praktis dan membebaskan.
Latihan ini memang tidak mudah di awal, karena insting kita ingin segera “memperbaiki” situasi atau mengalihkan diri. Tapi dengan latihan, kita akan lebih tangguh menghadapi apa pun yang datang.
Keadaan alami hati adalah terbuka, penuh cinta, dan bebas.
Masalahnya, setiap kali kita menolak pengalaman, kita seperti menutup pintu hati sedikit demi sedikit. Akhirnya, kita merasa kering, hampa, dan mencari cinta di luar diri—dari pasangan, pekerjaan, atau pengakuan orang lain.
Melepaskan berarti membuka kembali pintu itu. Saat kita berhenti menahan rasa sakit, hati kembali mengalirkan cinta tanpa syarat. Kita tak lagi mencari “pelengkap” dari luar, karena di dalam sudah penuh.
Seperti belajar bermain piano, kita tidak langsung memainkan lagu Beethoven. Kita mulai dari skala dasar.
Hal-hal kecil ini adalah “buah yang mudah dipetik” untuk melatih kemampuan menerima kenyataan.
Ini adalah kalimat sederhana namun kuat:
“Saya bisa menangani ini.”
Ucapkan ini setiap kali hidup memberi Anda sesuatu yang tidak nyaman. Semakin sering Anda mengatakannya, semakin kuat keyakinan Anda bahwa Anda mampu menghadapi realitas, apa pun bentuknya.
Kalimat ini membebaskan, karena kita berhenti berperang dengan hidup. Kita berhenti mencoba mengontrol setiap detail. Kita berdamai dengan kenyataan, dan dari situ muncul ketenangan yang mendalam.
Ketika hati sudah bersih dan terbuka, kita berhenti menjadi “pengambil” yang selalu mencari kebahagiaan dari luar. Kita menjadi pemberi—sumber cinta, inspirasi, dan kebaikan bagi orang lain.
Dan inilah puncak spiritualitas: hidup tidak lagi tentang menghindari rasa sakit atau mengejar kesenangan, tapi tentang menyambut apa pun yang datang, mengekspresikan cinta, dan ikut serta dalam tarian kehidupan.